Revolusi Mental Dalam Perspektif Al-Quran
a. Pendahuluan
Revolusi mental menjadi salah satu tema kajian yang cukup menarik dibicarakan,bukan hanya dibidang politik dan ekonomi,tetapi juga dibidang sosial ,kebudayaan,pendidikan,dan keagamaan.Tema revolusi mental pernah mengemuka dan menjadi daya pikat Joko Widodo dan pasangannya M. Jusuf Kalla dalam kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden pada tahun 2014.
Setelah terpilih menjadi presiden dan wakil presiden gagasan ini kemudian di implementasikan dalam salah satu poin Nawa Citra pemerintahan ,bahkan melalui Kementrian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Joko Widodo menggagas gerakan nasional revolusi mental.
Jika ditelusuri , dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mengandung spirit ke arah perubahan sikap mental atau pola pikir (mindset) . Kajian revolusi mental dari sudut pandang nilai-nilai agama Islam khususnya perspektif Al-Qur’an ,memiliki alasan yang kuat dan dapat diterima.M. Quraish Shihab mencatat , dari ayat-ayat Al-Qur’an dipahami bahwa perubahan mental dapat terlaksana apabila terpenuhi dua syarat pokok : (1) Adanya nilai-nilai atau ide , (2) adanya pelaku-pelaku yang menyesuaikan diri dengan nilai-nilai tersebut. Syarat pertama telah diambil oleh Allah ﷻ melalui petunjuk Al-Qur’an dan penjelasan Nabi ﷺ .Sedangkan syarat kedua mengenai pelakunya adalah manusia-manusia yang hidup dalam suatu tempat dan yang selalu terikat dengan hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan itu.
b. DEFINISI REVOLUSI MENTAL
Revolusi mental secara etimologi terdiri dari dua kata yakni , “revolusi dan mental” yang berlainan makna. Kata’ revolusi’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. Sedangkan mental adalah hal-hal yang bersangkutan dengan batin dan watak manusia,yang bukan bersifat badan atau tenaga.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa revolusi mental adalah gerakan perubahan dari hal-hal mendasar bersumber dari watak dan batin manusia yang menjadi dasar manusia berbuat dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.
c. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REVOLUSI MENTAL
Persoalan revolusi mental merupakan persoalan yang melekat pada diri setiap pribadi,karna mental adalah suatu yang sangat penting pada setiap manusia. Berikut merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi revolusi mental :
1. Pembinaan karaker melalui peran Orang Tua atau Keluarga
Mental merupakan suatu hal yang sangat menentukan pada diri seseorang ,sebab mental menggambarkan bagaimana karakter dan watak pada diri seseorang tersebut. Baik buruknya mental atau karakter itu tergantung pada pembinaanya . Sebab pembinaan karakter bertujuan untuk membina pribadi-pribadi agar memiliki akhlaq yang baik . Pada dasarnya semua itu berawal dari pendidikan yang diberikan oleh keluarga dan orang tua . Oleh sebab itu peran orang tua sangat berpengaruh pada diri seorang anak.
Dalam hal ini , maka orang tua harus memiliki konsep yang lebih baik dalam membina anaknya . Contohnya dalam penerapan nilai-nilai baik atau sifat-sifat baik pada anak harus dimulai dari orang tua itu sendiri. Artinya orang tua harus memegang prinsip suri tauladan atau ibda’ binafsih . Melalui keluargalah seorang anak memperoleh sosialisasi dan nilai perilaku. Anak cenderung meniru tingkah laku orang tuanya baik berupa sikap maupun perkataan sehari-hari.
Berkaitan dengan hal itu , maka pola pendidikan yang harus diterapkan orang tua pada anak adalah pendidikan agama dengan nilai-nilai baik . Hal ini termaktub dalam pola pendidikan Lukman pada anaknya . Bahwa Lukman lebih mendahulukan nilai-nilai agama ,dengan menyuruh anaknya untuk tetap selalu menyembah Allah dan melarang anaknya untuk menyekutukkan Allah, kemudian menghormati kedua orang tua . Sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an surah Lukman ayat 13-14 yang artinya :
“Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya ,ketika dia memberi pelajaran kepada anaknya ,’Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukkan Allah ,sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.(13) Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik ) kepada kedua orangtuanya . Ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun.Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua oranng tuamu.Hanya kepada aku kembalimu(14).
2. Adanya Motivasi untuk mewujudkan mentalitas berevolusi
Motivasi adalah alasan yang mendasari sebuah perbuatan yang dilakukan oleh seorang individu. Seseorang dikatakan memiliki motivasi tinggi dapat diartikan orang tersebut memiliki alasan yang sangat kuat untuk mencapai apa yang di inginkannya dengan pekerjaan yang sekarang . Banyak alasan orang membangun motivasi diri , salah satunya alasan mendasar yaitu iman. Iman atau yang saya sebut dengan visi seseorang akan mengarahkan tindakan dan sikap seseorang pada sebuah pencapaian tujuan akhir yang ingin diraih
Adanya ketentuan atau qadha dan qadhar dari Allah ﷻ bukan berarti menyuruh manusia untuk pasrah ,menjadi fatalis tidak mau bergerak atau berubah. Maka sangat disayangkan apabila ada seseorang atau sekelompok orang yang hanya pasrah menerima nasibnya tanpa didahului usaha dan do’a yang maksimal agar nasibnya dapat berubah menjadi lebih baik .
Oleh sebab itu agar terwujudnya perubahan mentalitas pada diri dan suatu bangsa maka seorang pribadi harus memiliki motivasi serta kemauan yang kuat agar terwujudnya gagasan revolusi mental tersebut , sebagaimana hal ini senada dengan Firman Allah ﷻ dalam QS.Ar-Ra’ad ayat 11 , yang artinya :
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum , Maka tak ada yang dapat menolaknya ; dan sekali-kali tak ada pelindung mereka selain dia .”
Ayat ini menegaskan bahwa keadaan suatu kaum tidak akan berubah hanya dengan diam saja, melainkan mereka harus berikhtiar dengan berusaha dan berdo’a agar terwujudnya perubahan tersebut . Disisi lain ayat ini juga memberikan inspirasi bahwa manusia tidak boleh menjadi fatalis dan pasrah atas keadaannya.Jika tidak nyaman atau tidak sesuai dengan yang diharapkan atau melenceng dari yang seharusnya ,maka harus berani melakukan revolusi atau perubahan.
Fakhrudin Ar Razi dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini adalah sesungguhnya jika suatu kaum dalam kesusahan dan masalah ,lalu mereka mengubah diri mereka dan menunjukkan penyembahan (ketaatan) kepada Allah ﷻ maka Allah akan mengangkat adzabnya dari kaum tersebut.
Dalam ayat lain konteks revolusi mental terdapat didalam QS.Al-Anfal ayat 53 , yang artinya :
“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum,hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
Menurut M Quraish Shihab ayat tersebut berbicara tentang perubahan sosial ,bukan perubahan individu . Dari sana dapat ditarik kesimpulan bahwa perubahan sosial tidak dapat dilakukan oleh seorang manusia saja . Boleh saja perubahan bermula dari seseorang yang ketika ia melontarkan dan menyebarluaskan ide-idenya diterima dan menggelinding dalam masyarakat .
Disini ia bermula dari pribadi dan berakhir pada masyarakat. Pola pikir (mindset ) dan sikap perorangan itu “menular” kepada masyarakat luas,lalu sedikit demi sedikit “mewabah” kepada masyarakat luas.dua pelaku perubahan .
Selain itu menurut M Quraish Shihab ayat tersebut juga berbicara tentang dua pelaku perubahan. Pelaku yang pertama adalah Allah ﷻ yang mengubah nikmat yang dianugerahkan-Nya kepada suatu masyarakat atau apa saja yang dialami oleh suatu masyarakat,atau katakanlah sisi luar/lahiriyyah masyarakat . Sedangkan pelaku kedua adalah manusia ,dalam hal ini masyarakat yang melakukan perubahan pada sisi dalam mereka .
Ayat tersebut juga menekankan bahwa perubahan yang dilakukan oleh Allah haruslah didahului oleh perubahan yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut sisi dalam mereka. Tanpa perubahan mustahil akan terjadi perubahan sosial . Karena itu boleh saja terjadi perubahan penguasa atau bahkan sistem ,tetapi jika sisi dalam masyarakat tidak berubah ,keadaan akan tetap bertahan sebagaimana sediakala. Jika demikian ,maka sekali lagi perlu ditegaskan bahwa dalam pandangan Al-Qur’an yang paling pokok guna perubahan sosial adalah perubahan sisi dalam manusia karena sisi inilah yang melahirkan aktivitas ,baik positif maupun negatif,dan bentuk sifat serta corak aktivitas itulah yang mewarnai keadaan masyarakat apakah positif atau negatif.
d. PRINSIP-PRINSIP REVOLUSI MENTAL DARI PERJUANGAN RASULULLAH ﷺ SEBAGAI SURI TAULADAN UMAT.
Dalam melihat prinsip-prinsip revolusi mental ini, penulis berpedoman kepada prinsip-prinsip Rasulullah ﷺ sebagai suri tauladan . Bagaimana Rasulullah menerapkan nilai-nilai Islam,mengubah kebiasaan masyarakat jahiliyyah dari yang tidak baik kepada yang lebih baik.Perubahan itu beliau lakukan selama 23 tahun dengan memakai metode ibda’ binafsih artinya memulai dari diri sendiri .
Namun dibalik metode yang digunakan Rasulullah tersebut ,ada campur tangan Allah disana ,yaitu berupa hidayah. Karena hidayah itu merupakan pemberian Allah ﷻ pada makhluk-Nya. Artinya disini jika Allah tidak memberi hidayah-Nya pada manusia itu, maka perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ itu juga tidak akan bisa diwujudkan .
Dengan demikian apa yang dilakukan oleh Rasulullah sangat berhubungan dengan hidayah yang diberikan oleh Allah . Sebab Rasulullah dalam menjalankan dakwah itu pun juga berdasarkan hidayah dari Allah ﷻ. Artinya Allah yang menentukan semua yang ada di alam ini . Namun apabila dikaitkan dengan revolusi mental wacana perubahan karakter itu berhubungan dengan diri pribadi seseorang ,sudah pastilah ada hubungannya dengan hidayah Allah pada diri pribadi tersebut .
Kunci Keberhasilan Rasulullah dalam revolusi mental itu ,adalah berpegang pada prinsip Ibda’ binafsih. Kemudian juga berpegang pada prinsip yang penuh dengan kesabaran dan lemah lembut. Bahkan Rasulullah juga berpedoman pada masa lalu ,sebagaimana disampaikan oleh Ahmad M.Saefuddin dalam buku karangan Samsul Nizar “Sejarah Pendidikan Islam” mengatakan bahwa “Untuk dapat mengetahui misi Nabi Muhammad ﷺ sebagai pendidik dan rahmat bagi sekalian alam,harus menoleh kebelakang mempelajari keadaan masyarakat manusia menjelang kelahiran Nabi Muhammad ﷺ ,sehingga jelas wujud yang sebenarnya rahmat itu. Oleh karena itu perlu mengungkapkan =sejarahnya bersumberkan pada Al-Qur’an beserta tafsirnya,keterangan-kjjfeterangan dari hadist nabi,atsar sahabat,kitab-kitab dan buku-buku yang disusun oleh para ahli sejarah.”
Tentu kita masih ingat keadaan bangsa Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad ﷺ , kondisi kehidupan bangsa Arab dikenal dengan sebutan zaman jahiliyyah .
Hal ini disebabkan oleh kebiasaan bangsa Arab yang berperilaku buruk dan berakhlak tercela. Mereka suka mencuri, meminum khamr, berzina, berjudi, merampok ,membunuh bayi-bayi perempuan yang baru dilahirkan ,dan sebagainya. Kemudian Allah ﷻ mengutus seorang Rasul akhir zaman (Nabi Muhammad ﷺ) untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlaq manusia . Rasulullah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik” (HR.Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim)
Beliaulah yang merubah moral atau akhlaq bangsa Arab yang tidak beradab menjadi lebih beradab . Kemudian muncul pertanyaan dalam diri ini .Lebih penting mana ,mengajarkan ilmu dahulu baru mengajarkan adab atau mengajarkan adab dahulu baru menjarkan ilmu ? Jawabannya adalah Rasulullah ﷺ pada zam\an itu memberi pengajaran tentang adab terlebih dahulu baru memberi pengajaran tentang ilmu . Karena apabila mengajarkan ilmu dahulu baru mengajarkan adab , akan berakibat buruk tidak hanya bagi diri sendiri tetapi korban utamanya adalah orang lain.
e. NILAI REVOLUSI MENTAL DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Syariat Islam merupakan satu-satunya ajaran agama yang bersifat sempurna (kamilah) dan menyeluruh (shamilah). Sempurna karena tidak didapatkan kekurangan ,kelemahan,dan menyeluruh karena meliputi lapangan individu ,kelompok masyarakat ,maupun negara. Islam mengatur cara hidup seseorang ,etika bergaul, juga memanage persoalan-persoalan hukum administrasi,politik dan sebagainya . Seperti : Integritas , etos kerja ,gotong royong dan sebagainya. Dalam sub ini penulis akan menganalisis 3 nilai revolusi mental yang digagas oleh Presiden Joko Widodo pada masa pemerintahnnya :
1. Integritas
Integritas adalah mutu,sifat,atau keadaan yang menunjukkan kesatuanyang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan.Integritas juga berarti kejujuran
Dalam nilai revolusi mental yang digagas oleh Joko Widodo adalah akhlak , dan pilar yang paling utama adalah kejujuran. Menurut Al-Muhasiby ciri jujur adalah mengharapkan keridhaan Allah ﷻ dalam semua perbuatan ,tidak mengharapkan imbalan dari makhluk,dan benar dalam ucapan. Al-Ghazali menegaskan bahwa jujur yang sempurna adalah menghilangkan sifat riya’.
Allah ﷻ telah mengingatkan untuk menjaga integritas dengan nada kecaman terdapat dalam QS.As-Shaff ayat 2-3 , yang artinya :
“Wahai orang-orang beriman,kenapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Menurut M.Quraish Shihab,ayat ini mengajarkan bahwa mengerjakan apa yang tidak diucapkan lebih baik daripada mengucapkan apa yang tidak dikerjakan.
Rasulullah ﷺ pun bersabda :
“ Sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga.Seseorang yang membiasakan diri berkata benar sehingga tercatat disisi Allah sebagai orang yang benar.” (HR.Muttafaq ‘alaih).
Artinya disini Islam sangat menjujung tinggi nilai kebenaran atau integritas . Menjaga integritas merupakan salah satu ikhtiar penting dalam berovolusi serta integritas juga merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam berevolusi .
2. Etos Kerja
Perbincangan mengenai etos kerja di kalangan ilmuan, cendikiawan, biokrat dan politisi bukanlah sesuatu yang baru. Hal itu bukan berarti para pakar telah memberikan satu definisi yang seragam mengenai etos kerja.
Menurut Nur Cholis Majid (1995) ,etos artinya watak ,karakter ,sikap, kebiasaan dan kepercayaan yang bersifat khusus tentang seseorang individu atau sekelompok manusia .
Sedangkan menurut Cliffot Greetz (1997) etos adalah sikap mendasar manusia terhadap diri dan dunia yang dipancarkan dalam hidup,dan etos erat kaitannya dengan aspek moral maupun etika yang dihasilkan oleh budaya
Pandji Anoraga (1992) , kerja adalah bagian yang paling esensial dari kehidupan manusia , ia akan memberikan status dari masyarakat yang ada dilingkungannya ,sehingga dapat memberikan makna dari kehidupan manusia yang bersangkutan .
Sedangkan El Qussy (1974) ,seorang pakar ilmu jiwa kebangsaan Mesir mengatakan bahwa kerja adalah perbuatan yang berhubungan dengan mental ,yang mempunyai ciri kepentingan ,yaitu untuk mencapai maksud atau tujuan tertentu.
Dari sejumlah definisi tersebut etos kerja adalah sikap seseorang atau suatu bangsa yang sangat mendasar tentang kerja,yang merupakan cerminan dari pandangan hidup dan berorientasi dari nilai-nilai ketuhanan.
Secara implisit banyak ayat Al-Qur’an yang menganjurkan umatnya untuk bekerja keras , dalam artian umat Islam harus memiliki etos kerja yang tinggi ,diantaranya terdapat dalam surah Al-Insirah ayat 7-8 yang artinya :
“Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan ) ,maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh(urusan) yang lain .”
Ayat ini menganjurkan kepada manusia khususnya umat islam agar memacu diri untuk bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin, dalam artian seorang muslim harus memiliki etos kerja tinggi sehingga dapat meraih kesuksesan dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat.
3. Gotong Royong
Gotong royong adalah bekerja bersama-sama,tolong-menolong , bantu-membantu. Melirik sejarah bangsa Indonesia ,Nusantara tidak dapat dipisahkan dari gotong royong . Budaya bahu membahu ampuh menggalang kekuatan dan menggiring gelombang ombak kebersamaan menuju dermaga kemerdekaan. Dalam kebersamaan ada tujuan mewujudkan kesejahteraan bersama,kemakmuran bersama ,karena tiada kesejahteraan dan kemakmuran individu tanpa terwujudnya hisup bersama-sama.
Allah ﷻ berfirman dalam QS.Al-Ma’idah ayat : 2
وَتَعَا وَ نُواْ عَلىَ االبِرِّ وَاالتَّقْوىَ وَلاَ تَعَأ وَنُواْ عَلىَ اْلأِثْمِ وَالْعُدْوَنِ وَاتَّقُوْا
ا للهَ إنَّ اللهَ شَدِيْدُالعِقَابِ
Artinya :9 “ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran . Dan bertakwalah kamu kepada Allah ,sesungguhnya Alla[h amat berat siksanya ” .
(QS.Al-Ma’idah:2)
Pada ayat tersebut Allah ﷻ memerintahkan manusia untuk saling tolong-menolong , bahu membahu dengan untuk mengerjakan suatu kebaikan dan melarang manusia untuk tolong menolong dalam hal kenurukan , dengan artian gotong royong dalam mengerjakan kebaikan atau hal yang positif agar terciptanya kesejahteraan bersama.
Jika revolusi mental dapat menghadirkan semangat gotong royong kembali tentu akan menumpas budaya-budaya intoleransi, diskriminasi, apatis, egois , acuh , dan intimidasi.
f. KESIMPULAN
Revolusi mental adalah gerakan perubahan dari hal-hal mendasar bersumber dari watak dan batin manusia yang menjadi dasar manusia berbuat dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Faktor yang mempengaruhi revolusi mental antara lain : Pembinaan karakter melalui peran Orang Tua atau Keluarga dan adanya motivasi untuk mewujudkan mentalitas berevolusi. Nilai-nilai revolusi mental dalam perspektif Islam antara lain : integritas; pilar utama integritas revolusi mental yang digagas oleh Joko Widodo adalah kejujuran , dengan menjaga integritas suatu keberhasilan revolusi mental akan mudah tercapai , selanjutnya adalah etos kerja dan gotong royong , keduanya merupakan komponen pelengkap dari prinsip-prinsip revolusi mental yang telah digagas oleh Joko Widodo dalam Nawa Citra sistem Pemerintahnnya.
Oleh : Merisa Restu Melania
Wah keren mantap 👍
BalasHapus