Hujan
"Bagass, kamu jemput adek ya"
Terdengar pelan dari kejauhan. Bagas yang waktu itu lagi rebahan, memaksa badan hyper aktive nya itu untuk istirahat sejenak, yang padahal hari itu dia tidak ngapa-ngapain. Bagas meng-iyakan perintah mamanya, walaupun sambil menggerutu sedikit. Ya, gen Z memang sering di issuekan sebagai generasi lemah, yang disuruh angkat jemuran waktu lagi push rank udah ngerasa anak paling broken home di kecamatan.
Bagas berangkat, men-starter mobil CRV satu-satunya milik keluarganya itu.
Ia menghidupkan audio di mobilnya, lirih. Bagas memang tidak seperti anak remaja pada umumnya yang suka dengan riuh, dia tenang, suka keheningan, dan suara-suara yang tidak memekikan telinga. Lagu 10cm dari drawer dan gemercik suara hujan kecil seakan menemani malamnya yang beberapa hari terakhir ia habiskan dengan diam dikamarnya, merenungi kehidupanya yang kian hari kian rumit.
Sebulan terakhir tenaganya terkuras harus bolak balik kampus membereskan urusanya, belom lagi skripsi yang memakan waktu tidurnya belakangan ini. Tapi sekarang bagas sudah cukup tenang, skripsinya selesai, tinggal di sidangkan. Sidang, ya itulah masalah barunya.
Terdengar kabar, ia harus membayar uang kuliahnya dulu baru bisa sidang, dan orang tuanya sedang banyak masalah keuangan, parahnya mobil putih kesayangan keluarganya ini kabarnya harus ikut terjual. Belum lagi, kadang ia harus diam, menerima keadaan waktu mamanya curhat soal kondisi keuangan keluarga mereka yang lagi amburadul.
Ia benar-benar hanya bisa diam dengan beberapa kali menghela nafas. Lagu 10cm dan suara gerimis hujan itu seolah menjadi kolaborasi yang pas untuk bagas semakin tenggelam dalam lumanan-lamunan kehidupanya yang ia merasa sudah di ujung tanduk itu.
Semua memang serba menyulitkan untuknya, terlebih terakhir bagas apply kerjaan part time, ia tak banyak menghasilkan pundi-pundi. Sepanjang perjalanan ia hanya menatap kosong jalan sembari sesekali memperhatikan lubang di jalan yang digenangi air itu.
Ia hanya tak menyangka, mendewasa tak seindah kiranya dulu. Dewasa yang ia kira menyenangkan, bisa melakukan apa saja, ternyata itu hanya kamuflase dari manusia-manusia kuat yang tak mau beberapa sisi gelap hidupnya. Sialnya, bagas tak belajar ilmu kamuflase kehidupan waktu sd, dan ini cukup mengagetkan untuknya.
Sempat terlintas, ia ingin menjadi anak kecil mamanya lagi, yang ketika makan pesawat sendok mamanya siap menjadi ekspedisi pengantar nasi dan sayur sop ke mulut mungil yang dipenuhi gigi grupisnya itu. Ya tapi dia tau, itu engga mungkin sih. 10 menit perjalanan, ia akhirnya sampai di rumah dinda, teman adiknya. Ia membuka hp, menelfon adiknya, memberi tau dia sudah ada didepan. Wulan, adiknya yang sudah kelas 10 di salah satu SMA di bandung itu akhir-akhir ini memang sering kerja kelompok bersama teman-temanya dirumah dinda.
Wulan masuk kemobil, dan tatapan kosong bagas selama diperjalanan, berubah menjadi tatapan hangat seorang kakak pada adiknya yang dulu masih bisa dia ajak main itu. Mereka pulang, Wulan merubah setelan lagu di mobil mereka, lagu yang tadinya tenang, tak menimbulkan kebisingan berubah menjadi lagu jedug-jedug favorit adiknya itu.
Bagas tak protes, ia tau ia harus mengalah. Tak ada raut kesedihanpun di wajahnya, semua tampak biasa saja. Memang ia tak belajar ilmu kamuflase kehidupan waktu sd, tapi semenjak adiknya lahir ia belajar menjadi kakak yang baik, untuk Wulan.
Komentar
Posting Komentar