KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, TuhanYang Maha Esa lagi Maha Penyayang, karena berkah dan kemurahanNya essay ini dapat saya selesaikan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan tema “Sinegritas NDP Sebagai Idiologi HMI dengan Pancasila sebagai Idiologi Bangsa" judul makalah “Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader Himpunan Mahasiswa Islam.”, yang dikembangkan oleh penulis. Makalah ini sengaja dibuat untuk memenuhi syarat mengikuti Intermediate Training (Latihan Kader 2) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Pringsewu Terlebih lagi, tertuang dalam makalah ini kegelisahan-kegelisahan penulis atas permasalahan, tantangan dan hambatan yang dihadapi Kader Himpunan Mahasiswa Islam hari ini di era modern ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan dampak dan semangat baru atas perbaikan kepribadian diri kader HMI dan mampu mencapai idealitas nilai diri seorang kader HMI, yaitu Kualitas Insan Cita dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah ﷻ . Tentunya makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan evaluasi objektif dan kritik progresif dari para pembaca sekalian. Terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Bandar Lampung, 20 Juni 2021
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Himpunan Mahahasiswa Islam atau biasa disingkat dengan (HMI) merupakan organisasi mahasiswa tertua yang didirikan pada tanggal 05 Februari 1947 di Yogyakarta oleh mahasiswa sekolah tinggi islam yang bernama Lafran Pane di Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta Ke 13 temannya pada saat itu adalah Karnoto Zarkasyi, Dahlan Husein, Maisaroh Hilal , Suwali, Yusdi Ghozali, Mansyur, Siti Zainah , Muhammad Anwar, Hasan Basri, Zulkarnaen, Tayeb Razak, Toha Mashudi dan Bidron Hadi. Menurut Agus Salim Sitompul dalam buku “Sejarah dan Perjuangan Himpunan Mahasiswa Islam (1947-1975).
Himpunan Mahasiswa Islam didirikan atas dasar kepedulian terhadap kondisi umat dan kondisi bangsa. Situasi dan kondisi Indonesia kala itu, sebagai bangsa yang baru saja memerdekakan diri, namun terus berjuang mempertahankan kemerdekaannya menimbulkan kegelisahan pada diri Lafran Pane dan kawan-kawannya. Mereka melihat bahwa pada masa itu masyarakat Indonesia secara umum dan umat Islam secara khusus sangat tertinggal dan memprihatinkan dibandingkan bangsa-bangsa lain. Keprihatinan yang mendalam dan keinginan kuat untuk berbuat sesuatu yang memberikan manfaat terhadap situasi dan kondisi itu akhirnya mendorong Lafran Pane dan kawan-kawannya untuk nekad membentuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada awal didirikannya HMI memiliki dua buah misi untuk diperjuangkan, yaitu: 1) mempertahankan NKRI dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, dan; 2) menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam. Berdasarkan dua misi tersebut dapat dilihat jelas bahwa ada dua komitmen yang senantiasa terintegrasi dalam setiap langkah perjuangan HMI, yaitu komitmen keindonesiaan dan keislaman.
Komitmen keislaman tercermin melalui usaha HMI untuk selalu mewujudkan nilai-nilai ajaran Islam secara utuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sedangkan komitmen kebangsaan adalah usaha HMI untuk senantiasa bersama-sama seluruh rakyat Indonesia untuk merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia demi terwujudnya masyarakat yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkeadaban. Dalam perjalanannya, dua buah rumusan misi awal itu mengalami perubahan redaksional, namun esensi perjuangan yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan dan lebih disempurnakan. Perubahan dan penyempurnaan redaksional rumusan misi itu penting dalam rangka merespon situasi dan kondisi zaman yang sudah berubah dan berbeda dari tahun 1947 lalu. Oleh karena itu, rumusan misi awal itu diubah redaksinya menjadi “terbinanya insan akademik, penciptan, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala” dan masih tetap disepakati untuk diperjuangkan hingga sekarang.
Berbicara tentang kiprah sebuah organisasi yang cukup tua, seperti halnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), adalah tak terlepas dari kontribusi pemikiran para tokoh intelektual yang menjadi aktor utama organisasi masing-masing. Dalam lingkup HMI salah seorang tokoh utama yang dimaksud adalah Nurcholis Madjid. Tak dapat dipungkiri bahwa corak berpikir keislaman Nurcholis Madjid (atau biasa disebut Cak Nur), dianggap cukup berpengaruh terhadap pembentukan karakter berpikir Dalam lingkungan HMI Cak Nur menjadi tauladan. Para kadernya tak jarang mengutip pemikiranpemikirannya. Karya-karya Cak Nur seperti menjadi referensi wajib bagi mereka, sehingga tulisan, perkataan dan gagasan-gagasan mereka memiliki kemiripan intelektual yang nyaris seragam. Sebagai organisasi yang jelas eksistensinya, maka pada tahun 1969-1971 Nur Cholis Majid (Cak Nur) Melahirkan suatu kertas kerja yang akhirnya dinamakan sebagai Nilai Dasar Perjuangan. Kertas kerja tersebut merupakan gagasan brilian sebagai buku saku untuk menjadi kajian ilmiah bagi kalangan kader-kader HMI dan terterima secara nasional di forum kongres HMI.
Dalam perkembangan HMI pada saat ini, diibaratkan seperti besi yang sedang berkarat.Hal ini terjadi dikarenakan peran organisasi sebagai organisasi perjuangan yang mampu mencetak kader sebagai kader yang menanamkan didalam dirinya lima kualitas insan telah memudar. Memudarnya peranan HMI ini disinyalir salah satunya karena kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan ajaran agama Islam dikalangan anggota dan pengurus. Hampir-hampir tidak ada perbedaan pengetahuan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan agama Islam seorang anggota HMI sebelum dan sesudah masuk HMI. Oleh sebab itu penulis berfikir perlu adanya pembangunan kembali Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI guna mencapai kualitas insan cita dan guna perbaikan HMI untuk kiprahnya dimasa yang akan mendatang.
b. Rumusan Masalah
1. Apa Penyebab Kemunduran Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI ?
2. Mengapa perlu adanya Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI ?
3. Bagaimana langkah-langkah merevitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI?
Tujuan Penulisan
Adapun beberapa tujuan penulisan dari makalah ini adalah :
1. Untuk menjelaskan penyebab degredasi Ghirah Ketauhidam (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI
2. Untuk menjelaskan Urgensi mengenai Revitalisasi Ghirah Ketahudian Ketuhanan Yang Maha Esa)
3. Untuk menjelaskan langkah-langkah evitalisasi Ghirah Ketahudian Ketuhanan Yang Maha Esa).
d. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari isi makalah ini adalah sebagai berikut:
Bagi Penulis makalah ini sebagai salah satu persyaratan untuk dapat mengikuti Latihan Kader II Himpunan Mahasiswa Islam
Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Urgensi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri kader HMI
Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai acuan bagi kader-kader HMI dalam melaksanakan peran dan fungsinya sebagai agen perubahan dimasyarakat.
e. Batasan Masalah
Untuk mempermudah dalam pembahasan agar masalah yang dibahas tidak melebar dan terlalu luas sehingga mengaburkan topik permasalahan yang utama maka penulis menganggap perlunya dibuat batasan maalah pada makalah ini. Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini antara lain :
1. Penyebab degredasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) Pada diri Kader HMI
2. Urgensi mengenai Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) Pada diri Kader HMI
3. Langkah-langkah Merevitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) Pada diri Kader HMI.
f. Metode Penulisan
Metode penulisan yang dilakukan dalam penyelesaian makalah ini adalah metode deskriptif yang bersifat studi literatur yang dilakukan untuk mendukung jalannya penulisan mulai dari awal hingga penyusunan akhir makalah ini. Selain itu studi literatur dilaksanakan guna mendapatkan dasar teori yang kuat berkaian dengan makalah ini sehingga dapat menjadi acuan dalam melaksanakan pembahasan. Studi literatur meliputi pengumpulan data, dan informasi dari buku dan jurnal-jurnal yang mempunyai relevan dengan bahasan dalammakalah ini, serta masukan dari senioran dan kawan-kawan seperjuangan di HMI.
g. Sistematika Penulisan
1.Pendahuluan (berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaatpenulisan, pembatasan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan.
2. Pembahasan (isi masalah yang akan di bahas).
3. Penutup (berisikan kesimpulan dari pembahasan dan saran atau solusi untuk masalah yang di bahas.
BAB II
PEMBAHASAN
Definisi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa)
-Definisi Ghirah
Buya Hamka dalam tulisannnya pernah menjelaskan pengertian 'ghirah' dengan suatu pengertian yang sederhana: 'cemburu'. Ghirah adalah kecemburuan dalam beragama. Cemburu itu bukan sekadar marah atau kesal atau jengkel, melainkan perasaan tidak rela karena haknya direnggut dan berhasrat besar untuk merebut haknya kembali. Kalau tak ingin merebut kembali, 'bukan cemburu namanya'. Itulah sebabnya orang bilang; "cemburu adalah tanda cinta, dan tidak ada cinta tanpa rasa cemburu". Nah, yang disebut 'ghirah' itulah perasaan memiliki/mencintai agama secara mendalam yang kemudian terwujud dalam pembelaan yang kuat ketika agamanya dihina oleh siapa pun. Termasuk di dalamnya ketika 'Islam' dilecehkan dengan beragam cara, dan barangkali bisa kita pahami juga ketika Islam direduksi menjadi sejumlah simbol yang digunakan untuk kepentingan politik dan bisnis 'sesaat' yang arahnya tidak 'selaras' dengan ruh/spirit/semangat Islam.
-Definisi Ketauhidan
Kalimat Ketauhidan akar kata dari Tauhid. Tauhid sendiri berasal dari bahasa arab yakni wahada-yuwahidu-tauhidan, yang artinya mengesakan, menyatukan. Bukti termudah dan tergamblang tentang ketauhidan adalah keserasian dan keteraturan yang terjalin diantara berbagai ciptaan yang tersebar dijagat alam. Seperti keserasian yang tercetak pada senuah bangunan, tulisan dalam sebuah buku atau surat. Semua itu merupakan bukti nyata yang menunjukkan bahwa masing-masing darinya pasti disusun atau ditulis oleh satu orang. Ibnu Taimiyah mengelompokan tauhid menjadi 3 jenis :
1. Tauhid Rububiyah, Macam tauhid yang pertama adalah tauhid rububiyah. Pada perspektif Ibnu Taimiyah, Tauhid rububiyah sebagai jenjang pertama tauhid merupakan keyakinan bahwa pencipta serta pengatur alam semesta hanyalah Allah SWT saja. Dalam hal ini, seluruh golongan manusia diklaim sudah bertauhid.
Ibnu Abdil Izz, salah satu pendukung fanatik Ibnu Taimiyah menjelaskan:
وَأَمَّا الثَّانِي: وَهُوَ تَوْحِيدُ الرُّبُوبِيَّةِ، كَالْإِقْرَارِ بِأَنَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ، وَأَنَّهُ لَيْسَ لِلْعَالَمِ صَانِعَانِ مُتَكَافِئَانِ فِي الصِّفَاتِ وَالْأَفْعَالِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ حَقٌّ لَا رَيْبَ فِيهِ، وَهُوَ الْغَايَةُ عِنْدَ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ وَطَائِفَةٍ مِنَ الصُّوفِيَّةِ، وَهَذَا التَّوْحِيدُ لَمْ يَذْهَبْ إِلَى نَقِيضِهِ طَائِفَةٌ مَعْرُوفَةٌ مِنْ بَنِي آدَمَ، بَلِ الْقُلُوبُ مَفْطُورَةٌ عَلَى الْإِقْرَارِ بِهِ أَعْظَمَ مِنْ كَوْنِهَا مَفْطُورَةً عَلَى الْإِقْرَارِ بِغَيْرِهِ مِنَ الْمَوْجُودَاتِ
Artinya: “Yang kedua adalah tauhid rububiyah, seperti pengakuan bahwasanya Allah adalah pencipta segala sesuatu dan bahwasanya alam semesta tidak mempunyai dua pencipta yang setara dalam sifat dan perbuatannya. Tauhid ini adalah benar tanpa diragukan lagi. Ia adalah puncak menurut banyak pemikir dan ahli kalam serta segolongan Sufi. Tauhid jenis ini tidak ditentang oleh kelompok Bani Adam mana pun yang dikenal, tetapi sudah ada fitrah dalam hati untuk mengakuinya lebih besar dari fitrah untuk mengakui seluruh eksistensi lain.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 79)
Kemudian, Ibnu Abdil Izz lebih lanjut mengklaim, sleuruh kaum musyrik non muslim tidak ada yang meyakini Tuhan mereka sebagai sekutu Allah SWT dalam menciptakan alam semesta. Beliau berkata:
وَلَمْ يَكُونُوا يَعْتَقِدُونَ فِي الْأَصْنَامِ أَنَّهَا مُشَارِكَةٌ لِلَّهِ فِي خَلْقِ الْعَالَمِ، بَلْ كَانَ حَالُهُمْ فِيهَا كَحَالِ أَمْثَالِهِمْ مِنْ مُشْرِكِي الْأُمَمِ مِنَ الْهِنْدِ وَالتُّرْكِ وَالْبَرْبَرِ وَغَيْرِهِمْ
Artinya: “Mereka (kaum musyrik jahiliyah) tidak meyakini bahwa berhala-berhala mereka adalah sekutu Allah dalam penciptaan Alam semesta, tetapi keyakinan mereka sama seperti keyakinan kaum musyrik lain dari berbagai umat, dari India, Turki, Barbar dan selainnya.” (Ibnu Abdil Izz, Syarh at-Thahawiyah, 81).
2. Tauhid Uluhiyah
Ibnu Taimiyah mengatakan:
وَإِنَّمَا التَّوْحِيدُ الَّذِي أَمَرَ اللَّهُ بِهِ الْعِبَادَ هُوَ تَوْحِيدُ الْأُلُوهِيَّةِ، الْمُتَضَمِّنُ لِتَوْحِيدِ الرُّبُوبِيَّةِ، بِأَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا، فَيَكُونُ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ، وَلَا يُخَافُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يُدْعَى إِلَّا اللَّهُ، وَيَكُونُ اللَّهُ أَحَبَّ إِلَى الْعَبْدِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَيُحِبُّونَ لِلَّهِ، وَيُبْغِضُونَ لِلَّهِ، وَيَعْبُدُونَ اللَّهَ وَيَتَوَكَّلُونَ عَلَيْهِ
Artinya: “Sesungguhnya tauhid yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba-Nya hanyalah Tauhid Uluhiyah yang sudah mencakup tauhid rububiyah, dengan cara menyembah Allah tanpa menyekutukannya dengan sesuatu pun sehingga agama seluruhnya menjadi milik Allah, tak ditakuti selain Allah, tak diseru kecuali Allah, Allah menjadi yang paling dicintai dari apa pun sehingga cinta dan marah karena Allah, dan menyembah Allah dan pasrah terhadap Allah.” (Ibnu Taimiyah, Minhâj as-Sunnah, juz III, halaman 289-290)
Macam tauhid yang ketiga sekaligus terakhir adalah Tauhid Al-asmâ’ was-shifât. Adapun tauhid al-asma’ was-shifat definisikan oleh Ibnu Taimiyah dan pengikutnya sebagai berikut:
توحيد الأسماء والصفات: وهو الإيمان بكل ما ورد في القرآن الكريم والأحاديث النبوية الصحيحة من أسماء الله وصفاته التي وصف بها نفسه أو وَصفه بها رسوله على الحقيقة.
Artinya: “Tauhid al-Asma’ was-Shifat, yakni beriman pada semua yang ada dalam al-Qur’an yang mulia dan hadits-hadits nabi yang sahih yang terdiri dari nama-nama Allah dan sifat-sifatnya yang disifati sendiri oleh Allah dan Rasul secara hakikat.” (Syahatah Muhammad Saqar, Kasyf Syubahât as-Shûfiyah, halaman 27).
Jadi dapat disimpulkan, Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah, Semangat menggelora dalam proses pengaplikasian atas kepercayaan dari mengesakan tuhan.
b. Penyebab Degredasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) Pada diri Kader HMI
Sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua di Indonesia, peran dan kontribusi HMI bagi umat dan bangsa tidak dapat diragukan. Di awal kemunculannya pada tahun 1947, HMI telah berkontribusi bagi negara Indonesia, termasuk dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini yang kemudian membuat Jenderal Soedirman menyebut HMI sebagai “Harapan Masyarakat Indonesia.” Dinamika sejarah mencatat bahwa, HMI juga berperan dalam penggulingan Orde Lama yang mulai tidak sesuai dengan rel kenegaraan. Pun begitu juga dengan hadirnya Orde Reformasi, yang menjadi tanda akhir dari era Orde Baru dimana HMI juga terlibat akif dalam proses tersebut.
Selain itu, dari rahim HMI muncul tokoh-tokoh intelektual Islam yang mampu menjadi motor atau penggerak nilai-nilai intelegensia. Nama-nama seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan tokoh lainnya tidak bisa kita nafikan mampu mewarnai wacana keislaman dan Keindonesiaan di Indonesia.Sebagai organisasi yang sudah berumur 73 tahun, HMI sudah berada dalam kondisi yang sangat mapan. Namun demikian, bukan berarti HMI telah berjalan dengan sempurna hingga di umurnya saat ini. Dalam perkembangannya sangat terlihat dengan jelas terdapat indikasi-indikasi kemunduran HMI pasca Reformasi. Agus salim Sitompul menyebut terdapat 44 indikator kemunduran HMI salah satunya adalah Kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus. Penyebab degredasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) pada diri Kader HMI menurut penulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis hal tersebut disebabkan karena :
Dalam diri kader Hmi sendiri
Banyak kader HMI yang belum memahami konsep ketauhidan, bagaimana isinya, bagaimana implementasinya, ini menjadi salah satu faktor melemahnya ghirah ketauhidan pada diri kader HMI.
Tidak tuntasnya follow Up mengenai Nilai-nilai Dasar Perjuangan dikomisariat
Nilai-nilai dasar Perjuangan merupakan landasan ideologi HMI. Karena nilai-nilai perjuangan HMI menjadi landasan ideologi dari HMI, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan dalam tubuh HMI ialah sebagai landasan ideologi dari setiap gerak perjuangan para kader HMI baik dalam individu-individu kader HMI maupun dalam organisasi keseluruhan. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI yang memuat nilai-nilai ajaran al-Qur’an yang universal untuk memberi panduan bagi kader HMI agar bisa memahami Islam dengan baik dan bisa menerjemahkannya dalam dimensi ruang dan waktu. Untuk itulah dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI tidak ditemukan ajaran-ajaran yang bersifat teknis fiqhiyah seperti pelaksanaan shalat, puasa, haji dan sebagainya. Dalam hal ini bukan berarti Nurcholish Madjid menganggap amalan-amalan keagamaan itu tidak penting, hanya saja karena sifatnya yang praktis (amali) maka tata cara pelaksanaannya diserahkan kepada diri kader.
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI merupakan dasar cara berpikir, tolak ukur dan terpolanya jalan pemikiran keislaman HMI. Dibangun dalam rangka menjadikan Islam yang rahmah lil alamin. Karena itu, dapat dikatakan bahwa Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI bagaikan “ruh” dari jasad HMI untuk melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan fil ardh.
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI ini tidak lahir begitu saja dengan konsep yang sederhana. Konsep Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI lahir dari hasil kajian Nurcholish Madjid dari pejalanannya ke luar negeri atau dengan kata lain bahwa Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI itu merupakan kesimpulan suatu perjalanan Nurcholis Madjid. Nurcholis Madjid sedikit berkisah bahwa waktu itu ia diundang untuk melakukan kunjungan ke Amerika selama satu bulan dua minggu. Dalam kunjungannya itu Nurcholis Madjid diberikan uang harian dan saat itu dolar belum inflasi sehingga uang yang Nurcholis Madjid peroleh cukup besar. Uang inilah yang digunakan Nurcholis Madjid untuk keliling Timur Tengah. Sewaktu di Amerika Nurcholis Madjid sudah kontak dengan orang-orang dari Timur Tengah karena niatnya yang besar untuk ke Timur Tengah. Kunjungan Nurcholis Madjid di Timur Tengah dimulai dari Istanbul, kemudian Libanon, lalu ke Syiria, kemudian Irak. Setelah itu ke Kuwait, Saudi Arabia dan Turki.
Suatu malam Dr. Mustafa di Riyadh mengajak Nurcholis Madjid ke Universitas Riyad menghadiri acara wisuda tamatan Fakultas Farmasi yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan yaitu Syekh Hasan bin Abdullah Ali Syekh. Di situ Dr. Mustafa mengenalkan Nurcholis Madjid kepada Menteri, yang kemudian meminta Nurcholis Madjid untuk menceritakan tentang gerakan Mahasiswa Islam di Indonesia. Menteri sangat senang mendengar keterangan-keterangan Nurcholis Madjid lalu mengundang 10 orang teman-teman HMI untuk naik haji pada tahun itu juga. Selanjutnya, dari Riyad Nurcholis Madjid ke Madinah, terus ke Mekkah, kemudian ke Kharthum. Dari situ Nurcholis Madjid pergi ke Mesir, kemudian kembali ke Libanon dan ke Pakistan. Dari seluruh tempat yang dikunjungi Nurcholis Madjid itu, ia mengadakan berbagai diskusi.
Kemudian Nurcholis Madjid ke Sudan dan pulang. Akhir Januari 1969 Nurcholis Madjid ke Indonesia untuk kemudian sibuk untuk merealisir janji dari Menteri Pendidikan Saudi Syekh Hasan bin Abdullah Ali Syekh untuk naik haji yang pada waktu itu jatuh pada bulan Maret. Sepulang dari haji itulah Nurcholis Madjid menulis sesuatu tentang nilai-nilai dasar Islam untuk bisa dibawa ke Malang pada bulan Mei. Jadi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI itu merupakan kesimpulan dari perjalanan macam-macam di Timur Tengah selama tiga bulan lebih itu. hal ini turut mengilhami Nurcholish Madjid untuk kemudian menulis Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI, suatu dokumen organisasi yang kemudian dikenal sebagai "pegangan ideologis" HMI.33 Akhirnya pada bulan Mei 1969 ketika Pengurus Besar HMI yang dipimpin oleh Nurcholis Madjid mengadakan Kongres ke-IX di Malang, pada saat itu Nurcholis Madjid memberikan presentasi mengenai Nilai-Nilai Dasar Islam. Selanjutnya kertas kerja yang telah disampaikan oleh Nurcholis Madjid dalam kongres tersebut diminta oleh peserta kongres dan selanjutnya kongres mengamanahkan untuk disempurnakan dengan menugaskan Sakib Mahmud, Endang Saifudin Ashari serta konseptornya Nurcholis Madjid sendiri.
Sebenarnya Nurcholis Madjid dan teman-teman HMI pada waktu itu berpikir untuk memberikan nama NDI, Nilai-Nilai Dasar Islam, akan tetapi setelah dipertimbangkan ulang, nama Nilai-Nilai Dasar Islam dianggap justru menyempitkan makna Islam itu sendiri karena mengklaim dengan nama Islam. Selanjutnya Nurcholis Madjid menemukan sebuah buku yang ditulis oleh Willy Eicher seorang ideolog Partai Sosial Demokrat Jerman dengan judul, The Fundamental Values and Basic Demand of Democratic Sosialism (Nilai-Nilai Dasar dan Tuntutan-Tuntutan Asasi Sosialisme Demokrat). Dari buku inilah Nurcholis Madjid terinspirasi untuk mengambil istilah Nilai-Nilai Dasar. Sedangkan kata perjuangan terambil dari buku karya Syahrir sebagai ideolog sosialisme Indonesia yang berjudul Perjuangan Kita. Akhirnya diambillah kata “perjuangan” dari bukunya Syahrir sehingga lengkaplah nama konsep tersebut menjadi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI yang disingkat dengan NDP. Pada Kongres ke-X di Palembang tahun 1971 konsep dasar Islam ini dikukuhkan dengan nama "Nilai-Nilai Dasar Perjuangan" yang disingkat dengan NDP.
Dalam perjalanan sejarah Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI, ketika negeri ini menganut asas tunggal yang ditetapkan oleh pemerintahan Soeharto, dengan dikeluarkannya UU No. 5 Tahun 1985 tentang Asas Tunggal Pancasila pada seluruh organisasi kemasyarakatan, Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI pun berubah nama lagi menjadi Nilai-Nilai Identitas Kader (NIK) namun isinya tetap tidak berubah. Selanjutnya perubahan nama ini kemudian disahkan pada kongres ke-XVI di Padang, sebab diubahya nama Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI menjadi Nilai-Nilai Identitas Kader karena penguasa menganggap kata perjuangan dapat mengganggu stabilitas nasional dan untuk membedakan kader HMI dengan yang bukan kader. Setelah orde baru tumbang dan demokrasi yang kian berkibar, maka pada Kongres ke-XXII di Jambi tahun 1999, Nilai-Nilai Identitas Kader kembali menjadi nama Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI sampai sekarang. Islam dan HMI merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan, hal ini yang menjadikan keislaman merupakan sebuah identitas perjuangan HMI. Oleh karena itu, nilai-nilai Islam harus dipegang teguh oleh para kader HMI. Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI sebagai landasan ideologi HMI setidaknya memuat misi perjuangan HMI secara individu dan organisasi kepada upaya-upaya yang nyata untuk mencapai misi HMI tersebut. NDP bagi kader HMI khususnya dipandang dari empat aspek; pertama, sebagai substansi spirit ajaran Islam Khas HMI. Kedua, sebagai komposisi dan formulasi ideal dan utuh dari makna iman, ilmu dan amal. Karena itu NDP dapat dipahami sebagai sarana pokok dan utama untuk mewujudkan kemanusiaan dan kemasyarakatan universal. Ketiga, sebagai paham sekaligus keyakinan berpikir HMI yang dapat menjadi landasan dan energi utama bagi kader HMI dalam mewujudkan misinya. Keempat, NDP sebagai landasan etis dan normatif setiap kader HMI untuk mencapai tujuannya. Tidak tuntasnta follow up mengenai Nilai-nilai dasar Perjuangan menurut penulis menjadi salah satu faktor penyebab kemunduran ghirah ketauhidan (ketuhanan yang maha esa) pada diri kader HMI.
Kurangnya diskusi serta kajian mengenai ke Islaman di Komisariat
Saat ini diskusi serta kajian mengenai keIslaman.
Kelahiran HMI dari rahim pergolakan revolusi phisik bangsa pada tanggal 5 Februari 1974 didasari pada semangat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islaman dalam berbagai aspek ke Indonesian. Semangat nilai yang menjadi embrio lahirnya komunitas Islam sebagai interest group (kelompok kepentingan) dan pressure group (kelompok penekanan). Dari sisi kepentingan sasaran yang hendak diwujudkan adalah terutangnya nilai-nilai tersebut secara normatif pada setiap level kemasyarakatan, sedangkan pada posisi penekan adalah keinginan sebagai pejuang Tuhan (sabilillah) dan pembelaan mustadh’afin Proses internalisasi dalam HMI yang sangat beragam dan suasana interaksi yang sangat plural menyebabkan timbulnya berbagai dinamika ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dengan didasari rasionalisasi menurut subyek dan waktunya.
HMI sendiri berazazkan Islam, namun sangat disayangkan kajian serta diskusi mengenai keIslaman jarang diadakan diKomisariat, penulis menemui beberapa komisariat yang lebih sering mengadakan diskusi serta kajian yang lebih banyak membahas mengenai politik bahkan ada beberapa komisariat yang aktiftitasnya dihiasi dengan budaya nokrong tidak jelas. Sedangkan, diskusi serta kajian mengenai KeIslaman cenderung diadakan hanya saat peringatan hari-hari besar saja, padahal akan jauh lebih baik jika diskusi serta kajian ke Islaman dapat dijadikan agenda rutin diKomisariat tujuannya adalah mencapai kualitas insan cita yakni insan yang bernafaskan Islam. Dan arah gerak HMI sesuai dengan azaznya sendiri yakni Islam.
Pengurus Komisariat belum mampu memberikan contoh yang baik kepada anggota biasa terutama kader-kader baru.
Seorang kader HMI yang baru bergabung kedalam Himpunan Mahasiswa Islam cenderung melihat pola tingkah laku dari abang dan yunda pengurus komisariat. Masih banyak ditemui kader-kader HMI terutama pengurus komiariat yang meninggalkan waktu sholat fardhu terutama ketika ada agenda diKomisariat, sangat disayangkan anjuran holat fardhu yang notaben hukumnya adalah wajib sering ditinggalkan tanpa uzur yang syar’i ini menyebabkan banyak kader-kader baru hmi yang masih awam mengikuti jejak para seniornya yang meninggalkan sholat fardhu saat ada agenda HMI.
Urgensi Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan yang Maha Esa) pada diri Kader HMI.
Islam adalah suatau agama yang berisi tentang tata hidup yang diturunkan Allah kepada umat manusia melalui para rasul-Nya, sejak dari Nabi Adam sampai kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kalau pada para rasul sebelum Nabi Muhammad, ajaran itu berwujud prinsip atau pokok-pokok yang disesuaikan menurut keadaan dan kebutuhan pada waktu itu; bahkan disesuaikan menurut lokasi atau golongan tertentu; prinsip atau pokok-pokok ajaran itu disesuaikan dengan kebutuhan umat manusia secara keseluruhan, yang dapat berlaku pada segala masa dan tempat. Ini berarti bahwa ajaran yang diturunkan melalui nabi Muhammad itu merupakan ajaran yang melengkapi dan menyempurnakan ajaran dari nabi-nabi sebelumnya. Ajaran Islam sendiri diturunkan Allah untuk kesejahteraan hidup manusia didunia dan diakhirat ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini, lebih lengkap dan lebih sempurna dari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya , karena agama Islam ini memuat ajaran tentang tata hidup yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, maka pengajaran tentang tata hidup yang berisi pedoman pokok yang akan digunakan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya didunia ini dan untuk menyiapkan kehidupan yang sejahtera diakhirat nanti.
Allah Subhanahu Wa Ta’alla sendiri memerintahkan manusia untuk bertauhid sebaaimana termaktub dalam firmannya, QS. Al-Anbiya’ ayat 25 :
وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku.
Memahami konsep dan memiliki ghirah ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah sebuah kewajiban setiap muslim, terutama kader Himpunan Mahasiswa Islam, karena segala aspek kehidupan baik dalam berorganisasi, dan bermasyarakat tidak akan bisa lepas dari ajaran-ajaran agama Islam. Jika seorang kader HMI tidak memiliki ghirah ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) bukan tidak mungkin amanah yang diembannya akan diselewengkan, sifat apatis terhadap sebuah perbaikanpun dapat menghinggapinya. Karena pada dasarnya seorang kader HMI yang telah faham konsep ketauhidan serta mengimplemntasikannya sebagai perwujudan ghirah perjuangan akan mampu menjadi sosok insan berkualitas insa cita , insan yang bernafaskan islam dan menjadi insan mampu bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Ghirah Ketauhidan para kader HMI dimasa kini kian memudar sekedar mengetahui tata cara sholat yang sesuai dengan sifat sholat nabipun banyak yang belum faham, itulah sebabnya mengapa revitalisasi ghirah Ketauhidan pada diri kader HMI perlu dilakukan agar azas KeIslaman yang HMI miliki tersebut benar-benar terjalankan.
D. Langkah-langkah Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan yang Maha Esa) pada diri Kader HMI.
Guna terwujudnya Revitalisasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan yang Maha Esa) pada diri Kader HMI. Maka penulis menyajikan langkah-langkah berikut :
Mengenal Adanya Allah
Apabila kita memperhatikan hukum adat (berupa keadaan dan peristiwa-peristiwa alam yang terus berulang-ulang terjadi setiap hari), maka orang yang menggunakan akalnya akan berkesimpulan bahwa keberadaan alam semesta dengan segala keadaan dan peristiwanya tidaklah terjadi dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan dan mengaturnya. Kesimpulan (hukum) akal seperti ini akan muncul setelah memperhatikan keadaan alam semesta dari berbagai aspeknya, seperti :
pertama, keteraturan benda-benda langit, nila kita perhatikan hukum adat pada benda-benda langit seperti matahari dan bulan semuanya berada dalam sistem yang teratur. Bulan dan matahari juga tidak pernah terlambat terbit. Keteraturan seperti itu menurut akal pasti ada pencipta dan mengatur perjalanannya. Maka sangatlah benar firman Allah dalam Al-qur’an surat Al-Imran ayat 190 :
“ Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi dan perubahan malam dan siang sungguh menjadi petunjuk bagi orang-orang yang menggunakan akal.”
Kedua , kebaharuan benda-benda alam, disisi lain kita perhatikan massing-masing benda alam itu semuanya adalah baharu, artinya selalu mengalami perubahan, dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari muda menjadi tua, dan menjadi tidak ada kembali. Kebaharuan benda-benda alam seperti itu juga menjadi petunjuk sehingga hukum akal menetapkan bahwa pada hakikatnya semua benda itu tidak memiliki wujud sendiri tetapi adanya dia karenaada yang mewujudkan (menciptakan).
Ketiga, kelahiran, pertumbuhan dan kematian manusia
Manusia terlahir kedunia sebagai bayi, ada yang laki-laki ada yang perempuan, ada yang terlahir putih ada yangberkulit hitam, kemudia ketika manusia menjadi tua dan akhirnya meninggal ini adalah menjadi petunjuk bahwa manusia tidak berkuasa dengan hidupnya sendiri tetapi ada sang maha pencipta.
Memahami konsep Wahidiyah Allah
Perkataan wahidiyah berasal dari kata “ Wahid” artinya “Esa” jadi wahidiyah Allah maksudnya adalah ajaran atau keyakinan tentang keesaan Allah dalam kaitanya dengan proses penciptaan makhluk. Allah mengetahui bahwa dia T Tunggal, tiada yang lain bersamanya sebagimana kesaksiannya pada dzatnya tersebut seperti dinyatakan dalam hadist qudsi :
“Pada mulanya aku adalah zat tersembunyi, maka aku ingin dikenal, lalu kuciptakan makhluk agar mereka mengenalku”. Dengan demikian tujuan penciptaan makhluk , termasuk manusia adalah agar kita mengenal-Nya, menyaksikan-Nya, dan mematuhi kehendaknya. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa yang menciptakan dan mengatur sistem kehidupan makhluk hanyalah Dia Allah Yang Maha Esa sebagimana firmannya :
لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
‘Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Mahasuci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya; ayat 22)
Menuntaskan Follow Up mengenai Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI disetiap Komisariat
NDP mengajarkan kepada kader HMI, bahwa proses mencari kebenaran itu tidak boleh berhenti. Karena kebenaran yang diperoleh manusia sesungguhnya adalah kebenaran yang bersifat relatif. Kebenaran yang absolut itu hanya ada pada Tuhan. Oleh sebab itu segala upaya untuk memahami ajaran agama secara argumentatif, harus dihargai. Aliran-aliran keagamaan yang muncul dalam Islam, baik yang sesat atau tidak, semuanya harus dipahami sebagai bagian dari usaha untuk menemukan kebenaran yang hakiki. Oleh sebab itu, tidak sepantasnya atas nama otoritas semu, upaya pencarian kebenaran itu dihentikan sama sekali. Kecuali kita memang meyakini kebenaran yang sudah ada adalah mutlak benar. Setiap kader HMI wajib diberikan materi NDP pada setiap pelaksanaan Latihan Kader (LK1).
Materi tersebut merupakan instrument untuk memahami dan mendalami Al Quran dan Sunnah Rasul sebagai pedoman perjalanan hidup kader HMI. NDP memberi arah bagaimana memaknai islam secara filosfis dan melalui pendekatan ilmu pengetahuan. Materi NDP di tingkat LK 1 atau basic training sebagai pengantar semata, bukan akhir dalam pembahasan NDP. Kajian NDP terus dilakukan dengan menghadirkan nara sumber yang berkompeten dari semua unsur yang memiliki wawasan tentang Ke-Islaman, Ke-Indonesiaa, dan Ke-Ummatan. Kewajiban pada Ilahi sebagai tujuan utama dalam hidup. Sebagaimana firamannya :
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
“Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56). Perintah Allah itu bagi kader HMI dipahami sebagai kebutuhan dan kenikmatan dalam menegakkan siar Islam. Juga menjalin ukhuwah sesama, membangun silaturrahmi.
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ اَيْنَ مَا ثُقِفُوْٓا اِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللّٰهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ الْاَنْبِۢيَاۤءَ بِغَيْرِ حَقٍّۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
QS. Surat 3 : 112 (Al Imron ayat 112) “Mereka diliputi kehinaan dimana saja berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama/Allah) dan tali (perjanjian) dengan manusia”. Hubungan secara vertikal dan horizontal menunjukkan keseimbangan dalam hidup dan aktivitas keseharian kader HMI, disamping menjaga keseimbangan dengan alam dimana kita berpijak. NDP memuat tujuh bab yang menyatu secara integrative dan menggambarkan suatu kesatuan yang universal. Ketujuh bab itu meliputi: 1) Dasar-dasar Kepercayan; 2) Pengertian-pengertian Dasar tentang Kemanusiaan; 3) Kemerdekaan Manusia dan Keharusan Universal; 4) Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan; 5) Individu dan Masyarakat; 6) Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi; dan 7) Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan.
Mengenai Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) tentu penekanan utama terletak pada NDP Bab IV, Telah jelas bahwa hubungan yang benar antara individu manusia dengan dunia sekitarnya bukan hubungan penyerahan. Sebab penyerahan meniadakan kemerdekaan dan keikhklasan dan kemanusiaan. Tatapi jelas pula bahwa tujuan manusia hidup merdeka dengan segala kegiatannya ialah kebenaran. Oleh karena itu sekalipun tidak tunduk pada sesuatu apapun dari dunia sekelilingnya, namun manusia merdeka masih dan mesti tunduk kepada kebenaran. Karena menjadikan sesuatu sebagai tujuan adalah berarti pengabdian kepada-Nya. Jadi kebenaran-kebenaran menjadi tujuan hidup dan apabila demikian maka sesuai dengan pembicaraan terdahulu maka tujuan hidup yang terakhir dan mutlak ialah kebenaran terakhir dan mutlak sebagai tujuan dan tempat menundukkan diri. Adakah kebenaran terakhir dan mutlak itu, ada, sebagaimana tujuan akhir dan mutlak daripada hidup itu ada. Karena sikapnya yang terakhir (ultimate) dan mutlak maka sudah pasti kebenaran itu hanya satu secara mutlak pula.
Dalam perbendaharaan kata dan kulturiil, kita sebut kebenaran mutlak itu “Tuhan”, kemudian sesuai dengan uraian bab I, Tuhan itu menyatakan diri kepada manusia sebagai Allah. Karena kemutlakannya, Tuhan bukan saja tujuan segala kebenaran. Maka dia adalah Yang Maha Benar. Setiap pikiran yang maha benar adalah pada hakikatnya pikiran tentang Tuhan YME. Oleh sebab itu seseorang manusia merdeka ialah yang ber-ketuhanan Yang Maha Esa. Keiklasan tiada lain adalah kegiatan yang dilakukan semata-mata bertujuan kepada Tuhan YME, yaitu kebenaran mutlak, guna memperoleh persetujuan atau “ridho” daripada-Nya. Sebagaimana kemanusiaan terjadi karena adanya kemerdekaan dan kemerdekaan ada karena adanya tujuan kepada Tuhan semata-mata.
Hal itu berarti segala bentuk kegiatan hidup dilakukan hanyalah karena nilai kebenaran itu yang terkandung didalamnya guna mendapat pesetujuan atau ridho kebenaran mutlak, dan hanya pekerjaan “karena Allah” itulah yang bakal memberikan rewarding bagi kemanusiaan. Kata “iman” berarti percaya dalam hal ini percaya kepada Tuhan sebagai tujuan hidup yang mutlak dan tempat mengabdikan diri kepada-Nya. Sikap menyerahkan diri dan mengabdi kepada Tuhan itu disebut Islam. Islam menjadi nama segenap ajaran pengabdian kepada Tuhan YME. Pelakunya disebut “Muslim”, Tidak lagi diperbudak oleh sesama manusia atau sesuatu yang lain dari dunia sekelilingnya, manusia muslim adalah manusia yang merdeka yang menyerahkan dan menyembahkan diri kepada Tuhan YME. Semangat tauhid (memutuskan pengabdian hanya kepada Tuhan YME) menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidupan bertauhid tidak lagi berat sebelah, parsial dan terbatas.
Manusia bertauhid adalah manusia yang sejati dan sempurna yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas. Dia adalah pribadi manusia yang sifat perorangannya adalah keseluruhan (totalitas) dunia kebudayaan dan peradaban. Dia memiliki seluruh dunia ini dalam arti kata mengambil bagian sepenuh mungkin dalam menciptakan dan menikmati kebaikan-kebaikan dan peradaban kebudayaan. Pembagian kemanusiaan tidak selaras dengan dasar kesatuan kemanusiaan (human totality) itu antara lain, ialah pemisahan antara eksistensi ekonomi dan moral manusia, antara kegiatan duniawi dan ukhrowi antara tugas-tugas peradaban dan agama. Demikian pula sebaliknya, anggapan bahwa manusia adalah tujuan pada dirinya membela kemanusiaan seseorang menjadi : manusia sebagai pelaku kegiatan dan manusia sebagai tujuan kegiatan.
Kepribadian yang pecah berlawanan dengan kepribadian kesatuan (human totality) yang homogen dan harmonis pada dirinya sendiri : jadi berlawanan dengankemanusiaan. Oleh karena hakikat hidup adalah amal perbuatan atau kerja, maka nilai-nilai tidak dapat dikatakan ada sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan konkrit dan nyata. Kecintaan kepada Tuhan sebagai kebaikan, keindahan dan kebenaran yang mutlak dengan sendirinya memancar dalam kehidupan sehari-hari dalam hubungannya dengan alam dan masyarakat, berupa usaha-usaha yang nyata guna menciptakan sesuatu yang membawa kebaikan, keindahan dan kebenaran bagi sesama manusia “amal saleh” (harafiah: pekerjaan yang selaras dengan kemanusiaan) merupakan pancaran langsung daripada iman. Jadi ketuhanan YME memancar dalam perikemanusiaan. Sebaliknya karena kemanusiaan adalah kelanjutan kecintaan kepada kebenaran maka tidak ada perikemanusiaan tanpa Ketuhanan YME. Perikemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah tidak sejati. Sebagaimana firman Allah ﷻ
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا وَّوَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰىهُ حِسَابَهٗ ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ۙ
39. Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS. An-Nur : 39)
Didalam Tafsir Al-Mukhtasar penjelasan mengenai ayat tersebut yakni, Amalan orang-orang kafir seperti fatamorgana “yaitu bayangan seperti air yang menguap yang terlihat pada tengah hari di tanah yang lapang”, orang yang kehausan akan mengiranya sebagai air, namun ketika dia mendatangi tempat itu ternyata tidak ada air sama sekali. Orang kafir mengira amal kebaikannya akan bermanfaat baginya, akan tetapi pada hari kiamat ketika Allah menghisab dan memberi balasan atas amalannya ternyata dia tidak mendapati pahala sedikitpun dari amalan itu. Allah Maha Cepat dalam menghisab hamba-Nya.
Oleh karena itu semangat Ketuhanan YME dan semangat mencari ridho daripada-Nya adalah dasar peradaban yang benar dan kokoh. Dasar selain itu pasti goyah dan akhirnya membawa keruntuhan peradabannya. “Syirik” merupakan kebalikan dari tauhid, secara harafiah artinya mengadakan tandingan, dalam hal ini kepada Tuhan. Syirik adalah sifat menyerah dan menghambakan diri kepada sesuatu selain kebenaran baik kepada sesama manusia maupun alam. Karena sifatnya yang meniadakan kemerdekaan asasi, syirik merupakan kejahatan terbesar kepada kemanusiaan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’alla :
اِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ......
“........... Sesungguhnya syirik itu suatu kejahatan yang besar” (QS.Luqman : 13)
Pada hakikatnya segala bentuk kejahatan dilakukan orang karena syirik. Sebab dalam melakukan kejahatan itu dia menghambakan diri kepada motif yang mendorong dilakukannya kejahatan tersebut yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Demikian pula karena syirik seseorang mengadakan pamrih atas pekerjaan yang dilakukannya. Dia bekerja bukan karena nilai pekerjaan itu sendiri dalam hubungannya dengan kebaikan, keindahan dan kebenaran, tetapi karena hendak memperoleh sesuatu yang lain. “Musyrik” adalah pelaku daripada syirik. Seseorang yang menghambakan diri kepada sesuatu selain Tuhan baik manusia maupun alam disebut musyrik, sebab dia mengangkat sesuatu selain Tuhan menjadi setingkat dengan Tuhan.
Demikian pula seseorang yang menghambakan (sebagaimana dengan jiran atau diktator) adalah musyrik, sebab dia mengangkat dirinya sendiri setingkat dengan Tuhan.
Kedua perlakuan itu merupakan penentang terhadap kemanusiaan, baik bagi dirinya sendiri maupun kepada orang lain. Maka sikap berperikemanusiaan adalah sikap yang adil, yaitu sikap menempatkan sesuatu kepada tempatnya yang wajar, seseorang yang adil (wajar) ialah yang memandang manusia. Tidak melebihkan sehingga menghambakan dirinya kepada-Nya. Dia selau menyimpan itikad baik dan lebih baik (ikhsan) maka kebutuhan menimbulkan sikap yang adil kepada manusia.
Dapat disimpulkan Meyakini bahwa manusia merdeka berserah pada Tuhan disebut iman (believe). Tindakan berserah pada Tuhan disebut Islam (act). Dan orang yang beriman dan mempraktikkan Islam disebut muslim. Inilah landasan tauhid keislaman. Bahwa kita mengimani Tuhan sebagai sumber dan kebenaran mutlak seraya mempraktikkannya dalam Islam sebagai muslim. Kebalikan dari iman adalah syirik, yakni yang menyerahkan diri pada tirani atau berhala. Pelakunya disebut musyrik. Sebagai manusia merdeka yang bertauhid, ikhtiar manusia mesti bisa mengejaw antahkan nilai-nilai tauhid ke kerja konkrit (entah dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya). Dengan demikian tidak ada perbedaan antara yang duniawi dan ukhrawi, profan dan transenden. Mereka yang bekerja tanpa nilai atau yang menganut nilai tanpa mengejawantahkannya dalam kerja konkrit digambarkan dalam Asy Syura ayat 226 sebagai tidak berintegritas. Merealisasikan nilai-nilai tauhid dalam kerja konkrit merupakan konsep amal. Sebagai manusia merdeka yang mendasarkan nilai-nilai pada Tuhan, beramal demi kemaslahatan manusia merupakan konsekuensi yang tak terbendung. Dengan kata lain, konsekuensi ber-Tuhan adalah berkemanusiaan, konsekuensi Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Kemanusiaan Yang Adil & Beradab, konsekuensi iman adalah amal.
Menjadikan Diskusi dan Kajian Keislaman sebagai agenda rutin di Komisariat. Setiap Kepengurusan dalam suatu Komisariat pasti memiliki program kerja yang beranekaragam disetiap bidangnya, namun alangkah lebih baik jika diskusi serta kajian mengenai Ke Islaman lebih dirutinkan, seperti kajian sifat sholat nabi, fiqih, btq, muamalah kontemporer dan sebagainya yang akan sangat bermanfaat bagi setiap kader dan tentunya Ghirah Ketauhidan) Ketuhanan Yang Maha Esa( dalam diri setiap kader akan terus terjaga.
Saling mengingatkan dan menasehati didalam circle komisariat
Disetiap Komisariat pasti ada saja pengurus ataupun kader biasa yang kerap kali meninggalkan waktu sholat fardhu agar hal ini tidak menjadi sebuah budaya buruk yang turun temurun terjadi di komisariat tentunya semua kader harus memiliki keberanian untuk saling mengingatkan dan menasehati dengan bahasa yang baik agar rantai keburukan tersebut terputus, sudah saatnya kita mengembalikan ghirah ketahuhidan dalam Himpunan Mahasiwa Islam yang dulu sempat berkibar, sudah saatnya kita menjadi agen perubahan yang senantiasa antusias dalam menyambut sebuah perbaikan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebagai organisasi yang sudah berumur 73 tahun, HMI sudah berada dalam kondisi yang sangat mapan. Namun demikian, bukan berarti HMI telah berjalan dengan sempurna hingga di umurnya saat ini. Dalam perkembangannya sangat terlihat dengan jelas terdapat indikasi-indikasi kemunduran HMI pasca Reformasi. Agus salim Sitompul menyebut terdapat 44 indikator kemunduran HMI salah satunya adalah Kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus. Penyebab degredasi Ghirah Ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Essa) pada diri Kader HMI menurut penulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis hal tersebut disebabkan karena : Tidak tuntasnya follow up mengenai Nilai-nilai Dasar Perjuangan di komisariat, Kurangnya diskusi serta kajian mengenai Keislaman, Pengurus Komisariat belum mampu memberikan contoh yang baik kepada anggota biasa terutama kader-kader baru. Memahami konsep dan memiliki ghirah ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah sebuah kewajiban setiap muslim, terutama kader Himpunan Mahasiswa Islam, karena segala aspek kehidupan baik dalam berorganisasi, dan bermasyarakat tidak akan bisa lepas dari ajaran-ajaran agama Islam. Jika seorang kader HMI tidak memiliki ghirah ketauhidan (Ketuhanan Yang Maha Esa) bukan tidak mungkin amanah yang diembannya akan diselewengkan, sifat apatis terhadap sebuah perbaikanpun dapat menghinggapinya.
Saran
Saran dari penulis untuk kanda, yunda, danadinda pembaca sekalian agar terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan islam dan bertnggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah ﷻ, yang mana menjadi pokok permasalahan di atas agar selalu menjalankan agenda-agenda komisariat dan meningkatkan literasi-literasi di lingkungan komisariat agar tercapainya 5 kualitas insan cita yang wajib diwujudkan oleh setiap kader-kader agar dapat mengikuti arus globalisasi yang modern dan menjadi penerus yang memiliki arti Nilai-Nilai Dasar Perjuangan.
Oleh : Merisa Restu Melania
Komentar
Posting Komentar