Untukmu, Merah Putihku
Oleh : H. N. Pradana
UNTUKMU, MERAH PUTIHKU.
UNTUKMU, MERAH PUTIHKU.
“ Indonesia!, Indonesia!,
Indonesia!.” Gema itu, teriakan itu, gemuruh itu, semua menuju kepadaku,
pertiwi sedang di tangguhkan, harga diri di pertaruhkan. Semua itu, membawaku
kepada ingatan jauh sebelum aku berada di gelanggang ini, bertaruh nyawa demi
sang pertiwi, demi menjaga merah putih tak kehilangan jati diri. Aku yang kini
bersimbah darah, demi sang saka agar tidak dijajah. ” Aku bisa, Mahesa kamu bisa, ayolah!! “ Semua ini, berawal dari masa
itu, masa dimana aku lahir sebagai sang rimba, yang siap menguasai semeseta.
“
Pak, Sebenere, adewe ki sopo to?” Tanyaku kepada seorang laki-laki yang hanya
memakai kaos dalam saat itu.
“
Maksudmu? “ Dahinya mulai mengerut.
“
Iyo, adewe ki sopo? Pribumi? Opo kaum seng gor numpang neng tanahe uwong? “
“
Yo jelas adewe ki pribumi to le, emang ngopo kok sampean moro-moro takok ngono
kui? “
“ Lek adewe iki pribumi, kenopo kok adewe malah
dadi pembantu di negeri sendiri? Opo
adewe ora iso dadi boss? Ora oleh dadi pemimpin? Tanyaku kepada laki-laki itu yang tak lain
adalah bapakku.
“
Koe ngerti ngopo adewe dadi pembantu? Karena adewe pinter le, iso gawe
perusahaan maju, apik, mergo wong-wong putih iku goblok-goblok, makane
boss-boss luar negeri ngenggo jasane adewe. Ngerti le”
Jawaban
bapak justru semakin buatku bertanya-tanya tentang keanehan negeri ini.
Jawabanya harus kutemukan sendiri. Aku adalah Mahesa Putra Junjung, aku adalah
kaki bagi negeri ini, aku adalah otak bagi bangsa ini, ini semua harus berubah,
Indonesia harus berubah, itu janjiku padamu, Ibu pertiwiku.
Hari
berjalan seperti biasanya, tak ada yang berubah, mungkin hanya harinya saja.
Aku dan bapak kerja sebagai buruh di perusahaan Mr. Smith asal amerika itu.
Disini kami di gaji semau mereka, jadi kalau mereka tidak mau menggaji kami,
maka dapur kami tidak berasap. Namun apalah daya bagi kami, untuk mencari
pekerjaan lainya pun sulit, mustahil dirasa untuk orang tak berpendidikan macam
kami untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Gerah rasanya berkerja dalam
tindasan seperti ini, inginku melawan mereka, tapi bagaimana? Tak ada hal yang
bisa dilakukan. Tak lama kemudian terdengar.
“ Attention Please! Mr. Smith will be
coming, get out the way! “ Salah satu tangan kanan Mr. Smith berteriak.
Kami tak tahu pasti, apa arti dari
kalimat itu, namun dengan melihat baja berkaki empat, aku tahu itu pasti Mr.
Smith yang datang, disini siapa lagi kalau bukan dia yang punya mobil, apalagi
sebagus itu. Selepas itu, dikibarkanlah bendera amerika, hal itu yang membuatku
emosi bukan kepalang, bisa-bisanya mereka mengibarkan bendera mereka di tanah
kami, tanah yang di merdekakan dengan segala tumpah darah. Aku yang saat itu
tak bisa mengendalikan emosiku, langsung kudatangi kerumunan pengerek bendera
itu, kuhajar mereka. Namun aku yang sendiri bisa apa, aku di halangi oleh
puluhan bodyguard si Smith itu.
” Pengumuman, telah datang anak dari Mr.
Smith, yaitu Alex Smith, dia adalah juara MMA kelas dunia, kedatanganya kesini
untuk bertemu dengan kalian sekaligus ingin mengadakan sayembara, barang siapa
yang berhasil mengalahkanya, maka dia berhak menjadi pemilik perusahaan ini,
namun jika kalah, maka kalian semua harus siap untuk bekerja tanpa di gaji.”
Rupanya, dengan mengandalkan anaknya
yang ahli dalam berkelahi, Mr. Smith ingin mencoba mengeksploitasi para
buruhnya, karena dirasa pasti tidak ada satupun diantara buruh-buruh itu yang
sanggup mengalahkan Alex di dalam gelanggang.
“ Bagaimana, ada yang berani?” Tanya
salah satu tangan kanan Smith yang sedikit banyak bisa berbahasa Indonesia itu.
Tiba-tiba
sesosok tangan hitam nan kasar meraih tanganku, menarik dan membawaku keluar
dari kerumunan, adalah Parjio, orang yang sangat membanggakanku.
“ Le, tak kandani.”
“ Perusahaan iki awale usahane mbah
buyutmu, mbah buyutmu le seng ngerintis usaha iki, iki milike keluargamu. Pas
usaha iki mulai berkembang, si Smith moro karo ratusan anak buahe, Membunuh mbh
buyutmu dan merebut paksa perusahaan iki teko tangane mbah buyutmu. Koe adalah
harapan, saiki saate rebut meneh opo seng wayae dadi milik keluargane adewe.”
Pakde mulai menitihkan tetesan air mata. Aku yang kala itu mendengar cerita
pakde parjio, seketika emosi bukan kepalang, langsung aku kembali ke kerumunan.
“ Aku!!!, aku akan melawanya.” Darahku
mengalir sangat cepat, ini bukan hanya soal keluargaku, tapi juga tanah airku,
tak akan kurelakan tanah ini menjadi ladang buta bagi mereka.
“ Kamu anak muda? Oke, Pertandinganmu
dengan tuan Alex akan di selenggarakan minggu depan, keraskan tulangmu, atau
mungkin nafasmu hanya tinggal seminggu lagi.” Dengan sombong dan merasa menang
rombongan Smith meninggalkan kerumunan.
Aku yang tak punya
bekal banyak soal bela diri, terus berlatih di dampingi ayah dan pakde yang dulu
adalah jawara silat. Motivasi, gemblengan, selama seminggu itu benar-benar
membuatku merasa 100x lebih kuat dari aku yang beberapa hari yang lalu. Hari
berlalu begitu cepat, hari yang kutunggu akhirnya tiba, hari dimana aku akan
jadi pemenang, atau mati dalam medan pertempuran. Gelanggang begitu mewah,
rupanya memang mereka tak main-main akan rencananya.
“ Sodara- sodara sekalian, mari kita
saksikan pertarungan hidup mati antara tuan Alex Smith, yang akan bertarung
dengan lawanya yaitu Mahesa Putra Junjung, mereka akan memperebutkan gengsi di
gelanggang ini, kita lihat siapa yang akan menjadi pemenang.” Permbukaan sang
komentator mulai membuatku gugup, namun aku tak boleh padam, demi keluargku,
demi tanah airku, darahku akan menjadi saksi bahwa kita tak akan mengalah lagi.
“
Teng- teng.” Suara lonceng telah bebunyi, kita saatnya.
Beberapa kali pukulanku
berhasil di hadangnya, sulit untuku meraihnya, tanganya begitu panjang dan
kuat, kakinya pun sama. Aku mulai meracik strategi untuk bisa meraihnya, namun
sudah beberapa kali aku terhempas. Dia begitu kuat, pukulanya mulai meneteskan
darah dari hidungku, percayalah dia sangat kuat. Tampak dari luar gelanggang
Mr. Smith menyeringai penuh bangga.
“ Don’t worry sir, we gonna be the
winner, and you’re gonna be number one in
here. They are just a scumbag.” Bisik salah satu anak buah dari Smith.
Seraya meminum bir, mereka menyaksikan darahku mengalir dari berbagai ruang,
aku hampir tumbang. Mataku biru, lidahku mulai kelu, hidungku sulit bernafas
karena penuh kan darah, aku sudah pasrah, mungkin sebentar lagi aku akan mati
dalam gelanggang ini.
Sekali
lagi, aku tak mampu menahan pukulan Alex, tanganya, tendangan memutarnya
berhasil meraih kepalaku, seakali lagi, aku tumbang. Aku nyaris tak sadarkan
diri, tapi kudengar dari pinggir gelanggang ayah dan pakde berusaha
menyemangatiku.
“ Mahesa, tangi le koe iso!!”
“ Le, ayok nang sampean iso, masa depan
Indonesia enek neng sampean le, saiki opo enggak sama sekali, tangi!! Engge
Indonesia. Ayok mahesa!!” Perkataan ayah mulai kembali melecut semangatku.
“ Indonesia!!, Indonesia!!,
Indonesia!!.” Gema itu, teriakan itu, gemuruh itu, semua menuju kepadaku,
pertiwi sedang di tangguhkan, harga diri di pertaruhkan. , aku yang kini sedang
bertaruh nyawa demi sang pertiwi, demi menjaga merah putih tak kehilangan jati
diri. Aku yang kini bersimbah darah, demi sang saka agar tidak dijajah. Ayo
Mahesaaa!!!!
Aku
mulai bangun, suara gemuruh mulai bergema dari luar gelanggang, menyambut
nafasku, menyambut semangat baruku, aku kembali dengan semangat beratus-ratus
kali lipat, Indonesia berada di tanganku, dan akan selalu seperti itu. Aku
mulai bisa meraihnya, segala sudut sudah ku raih, semua sudah kupukuli, namun
tak ada yang berhasil membuatnya tumbang. Namun tangan ku tak sengaja memukul
pinggang sebelah kananya, dan berhasil membuatnya tersungkur cukup lama. Smith
mulai panik, rencananya hampir gagal. Segera dia memanggil Alex.
“ Break his legs, do it!!”
Alex
kembali ke gelanggang, kami kembali bertarung. Kini pertarungan menjadi
seimbang, Alex pun mulai bersimbah darah, pukulan dan tendanganku cukup bisa
merobek kulit putihnya itu, Alex kembali tersungkur usai kupukul kembali
pinggang kananya. Aku tak mampu menyembunyikan sakit di kaki kananku, mungkin
karena tendangan Alex tadi yang membuatnya sesakit ini. Keadaan memanas,
gemuruh penonton begitu membuat golongan Smith kalang kabut, namun Alex kembali
bangkit dengan emosi menggebu dan nafas menderu.
“ Break his legs!!!!!” Teriakan yang
berbarengan dengan jatuhan yang dilakukan Alex kepadaku dan pukulanya berhasil
membuat kaki kiriku patah. Aku kembali tersungkur, tak mampu berdiri, tak mampu
lakukan apapun, Aku hancur. Aku meronta kesakitan, semuanya tak tertahankan,
namun kulihat sang saka kecil yang terikat di kepalaku lepas, terjatuh dan
menyusur di dasar. Tidak, tidak seharusnya kau disini, tempatmu di atas,
berkibar dengan gagah, ayooo mahesaaa!!!.
Kuikat
kembali sang merah putih di kepalaku, kukembalikan lagi tenagaku, masih ada
satu kaki, masih ada dua tangan ini, aku pasti bisa. Semuanya begitu gembira
menyaksikan aku bangkit untuk kedua kalinya, namun kali ini hanya dengan satu
kaki, kaki yang akan membawa sang merah putih menuju puncak tertinggi. Kami
kembali bertarung, Alex seringkali tersungkur, aku pun juga, kini kucoba
menahan alur serangan, kulihat Alex pun sudah sangat lelah, aku mengumpulkan
konsentrasiku, teringat jurus pamungkas ayah yang kulihat beberapa waktu lalu
selepas latihan, ayah menghancurkan kendi keras dengan tendangan memutarnya
dengan satu kaki.
Ku
coba jurus ayah, ayah terbelalak dari sudut gelanggang, tak menyangka jurusnya
mampu kutirukan, Alex mulai mengikuti permainanku, ia terbawa arus. “ Kalahkan
dia Mahesaaa!!!!!” Teriakan itu membawa kaki kananku menembus pinggang kanan
dari Alex hingga ia tersungkur. Nafasku menderu, mataku terbuka seperti singa
lapar, aku berhasil membuat Alex tak sadarkan diri. Aku menang, aku menang, aku
sungguh tak menyangka!!! Aku berhasil merebut perusahaan ini kembali, aku
berhasil membebaskan Indonesia dari jajahan ini. Aku menang!!!!
Ayah
langsung meraihku, memeluku yang kala itu mandi keringat dan darah.
“ Bapak bangga le, bapak bangga!!” Itu
adalah tangisan kebanggaan pertama dari bapakku, aku bangga. Langsung semua
warga mengusir Smith dan komplotanya dari daerah mereka, Smith tertunduk malu,
rencananya jauh dari yang ia bayangkan.
"Bendera amerika di tumbangkan, sang
saka di telah kibarkan.
Indonesia Raya di kumandangkan, tangan di bentangkan.
Kini
jiwa-jiwa telah di bebaskan, Tanah air tak lagi dalam kungkungan.
Dunia akan
berada dalam genggaman, kita teruskan tetes desir darah para pahlawan.
Melestarikan bumi pertiwi yang kita banggakan.
Ayolah, kita buat negeri ini
aman dan nyaman.
Aku Indonesia, aku merdekaaaa!!!!!"
Komentar
Posting Komentar